Mengenal Demam Rematik dan Penyakit Jantung Rematik : Jangan Anggap Remeh Demam

Mengenal Demam Rematik dan Penyakit Jantung Rematik : Jangan Anggap Remeh Demam

 

Penulis : dr. Giovano Fanheis Devara Pattiasina

 

Selama ini kebanyakan dari orang awam mengira bahwa terjadinya penyakit jantung hanya karena penyakit jantung koroner, hipertensi, atau kelainan bawaan. Namun penyakit jantung juga dapat muncul karena terjadinya suatu infeksi, tepatnya karena merupakan suatu respons imun tubuh terhadap infeksi bakteri Group A Streptococcus (GAS), dimana kemudian akan menyebabkan kerusakan pada jaringan otot jantung utamanya pada katup jantung. Kerusakan dari jaringan otot dan katup jantung akibat respons autoimun ini disebut Penyakit Jantung Rematik.

Demam rematik akut disebabkan oleh respons autoimun  terhadap bakteri Group A Streptococcus (GAS) yang kemudian akan menyebabkan gejala pada jantung, persendian, otak, kulit dan kulit. Demam rematik ini merupakan awal terjadinya Penyakit Jantung Rematik. Infeksi dari bakteri GAS ini cukup sering terjadi di negara berkembang, termasuk di Indonesia dan paling sering terjadi pada usia 5-15 tahun.Selain itu pengaruh lingkungan yang buruk,padat penduduk serta minimnya akses untuk pelayanan kesehatan akan meningkatkan angka kejadian infeksi GAS yang akan memicu terjadinya Demam Rematik.

Infeksi GAS yang berulang akan menyebabkan makin banyak proses autoimun yang berlangsung dan merusak otot dan katup jantung perlahan-lahan sehingga kemudian akan memunculkan gejala berdebar, nyeri dada, sesak dan lain sebagainya. Pada kondisi kronis akan menyebabkan gagal jantung. Infeksi GAS juga akan menyebabkan gejala lain seperti demam, nyeri pada persendian, munculnya Gerakan-gerakan pada tangan/kaki yang sulit dikontrol, serta kemerahan dan benjolan pada kulit.  Dalam menegakkan diagnosis Demam rematik digunakan suatu kriteria yang disebut Jones Criteria, dan selain tanda-tanda klinis, diperlukan beberapa pemeriksaan laboratorium dan elektrokardiografi (EKG). Pemeriksaan tambahan lain dapat berupa pemeriksaan laboratorium ASTO,radiologi dan ekokardiografi.

Tatalaksana Demam Rematik dan Penyakit Jantung Rematik merupakan pekerjaan hulu sampai hilir. Dimana diperlukan tindakan pencegahan Primordial mulai dari bagaimana mengatur lingkungan yang sehat dan higienis, mengurangi lingkungan padat penduduk, peningkatan status kesehatan, serta menghadirkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pencegahan primer yaitu bagaimana mendiagnosa infeksi GAS secara tepat di fasilitas kesehatan primer dan  dan pemberian antibiotik  yang tepat serta bila memungkinkan pemberian Vaksin. Pencegahan Sekunder meliputi pemberian antibiotik profilaksis secara teratur dengan jangka waktu tertentu , dimana American Heart Association (AHA) merekomendasikan pemberian antibiotik profilaksis setiap 3-4 minggu selama 5 tahun atau sampai usia 21 tahun bila tidak ada gejala jantung, namun bila ada gejala jantung maka dapat selama 10 tahun atau usia 21 tahun, pada kasus berat maka diberikan sampai pasien berusia 40 tahun. Apabila sudah terjadi Penyakit Jantung Rematik dengan segala komplikasinya maka dilakukan pecegahan tersier untuk mengurangi progresivitas penyakit dan mengurangi gejala dengan obat-obatan serta tindakan khusus seperti operasi katup jantung.

Sebagai penutup, infeksi GAS merupakan hal yang masih sering terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, dan memiliki komplikasi yang sangat berat yaitu Penyakit Jantung Rematik apabila tidak ditangani dengan serius dan akan mengurangi kualitas hidup penderitanya secara keseluruhan. Apabila sering terjadi demam dan infeksi, utamanya infeksi tenggorokan berulang, maka sangat dianjurkan untuk memeriksakan diri untuk mendapat penanganan terbaik dari dokter anda.

 

Referensi :

1.    Katzenellenbogen et al. BMC Health Services Research (2017) 17:793

2.  Gerber, M. A., Baltimore, R. S., Eaton, C. B., Gewitz, M., Rowley, A. H., Shulman, S. T., & Taubert, K. A. (2009). Prevention of Rheumatic Fever and Diagnosis and Treatment of Acute Streptococcal Pharyngitis: A Scientific Statement From the American Heart Association Rheumatic Fever, Endocarditis, and Kawasaki Disease Committee of the Council on Cardiovascular Disease in the Young, the Interdisciplinary Council on Functional Genomics and Translational Biology, and the Interdisciplinary Council on Quality of Care and Outcomes Research: Endorsed by the American Academy of Pediatrics. Circulation, 119(11), 1541–1551.

3.    Carapetis JR, Beaton A, Cunningham MW, et al. Acute rheumatic fever and rheumatic heart disease. Nat Rev Dis Primers. 2016;2:15084                                                                                                                                                                  

       Sumber gambar: freepik.com

su