Diabetes Melitus dan Penyakit Jantung Koroner: Awal Manis yang dapat Berakhir Tragis

Diabetes Melitus dan Penyakit Jantung Koroner: Awal Manis yang dapat Berakhir Tragis

 

Penulis: dr. Adhytya Pratama Ahmadi

 

Penyakit jantung dan pembuluh darah (penyakit kardiovaskular) telah diketahui berhubungan dengan beberapa faktor risiko, di antaranya yaitu merokok, genetik, obesitas, diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi. Penyakit jantung (khususnya penyakit jantung koroner) menempati peringkat pertama sebagai penyebab kematian tertinggi didunia. Laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2019 menyatakan bahwa sebanyak 8,9 juta kematian di dunia (16% dari jumlah total kasus kematian) disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 2 juta kasus bila dibandingkan dengan tahun 2000. Fakta ini tentu sangat menggugah perhatian apabila kita memperhatikan kemajuan ilmu kedokteran dan sistem kesehatan yang ada hingga saat ini. Salah satu faktor krusial dalam permasalahan ini ialah optimalisasi penanganan berbagai faktor risiko penyakit jantung yang telah disebutkan.

Sebagai faktor risiko, diabetes melitus atau juga kerap disebut sebagai penyakit kencing manis, merupakan permasalahan yang sangat besar sebagai hulu dari bertambahnya penderita penyakit jantung koroner. Penelitian pada tahun 2017 menemukan 451 juta orang dewasa di seluruh dunia mengidap diabetes dan hampir 50% dari jumlah ini belum pernah terdiagnosis sebelumnya. Pada tahun 2045 diproyeksikan angka ini akan mencapai 693 juta orang. Beban angka-angka ini sudah selayaknya menjadi perhatian bagi masyarakat dan juga praktisi kesehatan.

Apa saja efek merugikan dari diabetes melitus terhadap jantung dan pembuluh darah?

Kondisi tingginya kadar glukosa dalam darah sangat berdampak pada lapisan pembuluh darah bagian dalam (lapisan endotel). Lapisan endotel yang normal cenderung bersifat anti inflamasi dan dapat memfasilitasi perubahan diameter pembuluh darah sehingga aliran darah dapat berjalan dengan lancar. Lapisan ini juga mencegah menempelnya bekuan darah yang bersifat merugikan. Namun pada kondisi glukosa darah yang tinggi (hiperglikemia) secara terus menerus, fungsi lapisan endotel ini menjadi terganggu dan sangat rentan untuk terjadi timbunan plak aterosklerotik sehingga pembuluh darah akan menyempit. Hiperglikemia juga membuat sel keping darah (trombosit) menjadi lebih reaktif dan cenderung mudah untuk menggumpal satu sama lain dan membentuk sumbatan. Semua kelainan ini secara bersama-sama mengakibatkan seseorang mengalami serangan jantung, stroke, atau penyakit pembuluh darah perifer (tergantung dari lokasi pembuluh darah yang terkena) akibat kekurangan aliran darah.   

Apa perbedaan yang dapat ditemukan pada penderita penyakit jantung koroner (PJK) dengan diabetes dibandingkan tanpa diabetes?

Penderita diabetes akan lebih cepat mengalami kerusakan pembuluh darah melalui aktivasi proses pembentukan plak aterosklerosis. Adanya penyempitan akibat plak yang terbentuk juga akan menjadi relatif lebih luas. Sering dijumpai pasien PJK yang berusia masih relatif muda akibat mengidap diabetes yang tidak terkontrol. Risiko serangan jantung serta kematian mendadak juga sangat besar karena plak yang terbentuk bersifat sangat mudah ruptur/pecah.

Bagaimana prinsip pengeloalaan pasien diabetes melitus dengan penyakit jantung koroner?

Para ahli dalam bidang kedokteran melakukan berbagai penelitian dan mempertimbangkan berbagai hal demi penatalaksanaan yang tepat bagi penderita diabetes melitus. Pada prinsipnya, obat- obatan yang wajib dikonsumsi bagi penderita diabetes tidak hanya bertujuan untuk menormalkan kadar glukosa darah, tetapi juga menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dengan mengoptimalkan kadar kolesterol, tekanan darah, serta faktor risiko lainnya.  Pendekatan terapi bila sudah terdapat penyakit jantung koroner yang signifikan berupa operasi by-pass koroner dan intervensi yang menggunakan kateterisasi juga masih terus berevolusi pesat untuk menangani penyakit jantung koroner yang disertai dengan diabetes melitus. Target pencapaian pengobatan yang baik tentunya tetap bergantung pada kepatuhan pasien untuk menjalani gaya hidup yang sehat, rutin melakukan kontrol ke fasilitas kesehatan, serta dukungan keluarga dan lingkungan sosial.

Referensi:

Libby P, et al. Braunwald's Heart Disease-E-Book: A Textbook of Cardiovascular Medicine. Elsevier Health Sciences, 2021.

Levine, GN. Cardiology Secrets-E-Book. Elsevier Health Sciences, 2018.

Sumber gambar: freepik.com